BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Minggu, 25 April 2010

laporan praktikum ekologi daur karbon

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI
DAUR KARBON






























BIOLOGI 4B
PRODI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKHNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2010



BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Satu elemen penting di biosfer adalah karbon. Karbon adalah tulang belulang dari komponen organik dan tersusun mendekati dari 40% sampai 50% dari berat keadaan alam sekitar. Ada lebih komponen yang terbuat dari karbon dari pada kombinasi elemennya. Banyak dari karbon di bumi ditransfer dalam bentuk bahan bakar fosil, batu bara, tanah yang dipakai sebagai bahan bakar, minyak, dan gas alam (Lim, 1998).
Siklus karbon melibatkan seluruh lingkungan yang ada di alam semesta, meliputi atmosfer, biosfer, hidrosfer dan geosfer. Karena itu, siklus karbon disebut sebagai siklus biogeokimia. Pada setiap lingkungan dan antara lingkungan terjadi pertukaran karbon. Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui)
Karbon adalah elemen penting karena dapat membentuk bahan organik yang diperlukan bagi kehidupan di bumi. Karbon melalui rute perjalanannya di bumi mengalami suatu siklus yang disebut “siklus karbon”. Melalui siklus karbon kita dapat mempelajari aliran energi di bumi karena hampir seluruh energi kimia yang dibutuhkan untuk hidup disimpan pada bahan organik. Siklus karbon memiliki dua bagian penting yaitu, siklus di daratan dan siklus di perairan. Siklus karbon di perairan meninjau pergerakan karbon melalui ekosistim laut dan siklus karbon di darat meninjau pergerakan karbon melalui ekosistim daratan. Kandungan CO2 bebas di udara adalah sekitar 0,033%, dan cenderung mengalami peningkatan dari hasil penggundulan hutan dan pembakaran bahan bakar fosil.

Dalam kehidupan ini kita sebagai manusia saling membutuhkan satu sama lain dan juga saling melengkapi. Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan, kedua jenis makhluk hidup ini dalam kehidupannya saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain dengan sesama jenisnya.Makhluk hidup tidak dapat ini tanpa saling melengkapi satu sama lain. Seperti hubungan antara produsen dan konsumen. Pada siklus karbon terdapat juga hubungan antara produsen dan konsumen, hal ini mutlak adanya dan hal ini berguna untuk menjaga kestabilannya tersebut. Pada siklus karbon ini baik produsen maupun konsumen memilki peran masing-masing yang tentu saja sangat penting dalam proses terjadinya hubungan antara produsen dan konsumen. Untuk dapat mengetahuinya kita dapat mempelajarinya.
Proses di alam sudah tertata rapi. Setiap tahap dari suatu proses seluruhnya berjalan dengan peranan tertentu yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup mahluk di alam. Tetapi manusia sering kali menciptakan suatu proses baru, dengan alasan untuk kesejahteraannya yang malah menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan proses alam, sampai akhirnya menimbulkan bencana. Mari kita simak sebuah contoh, suatu proses yang terjadi di alam, yaitu siklus karbon.
Siklus karbon melibatkan seluruh lingkungan yang ada di alam semesta, meliputi atmosfer, biosfer, hidrosfer dan geosfer. Karena itu, siklus karbon disebut sebagai siklus biogeochemical. Pada setiap lingkungan dan antara lingkungan terjadi pertukaran karbon.
Karbon berpindah dari lingkungan atmosfer ke biosfer sebagai gas karbondioksida. Gas karbondioksida digunakan tumbuhan untuk berfotosintesis. Karbon ‘memasuki’ lingkungan atmosfer dari lingkungan bisofer juga sebagai gas karbondioksida. Gas karbondioksida dilepaskan ke atmosfer dari hasil pernafasan mahluk hidup, hasil pembusukan/fermentasi oleh bakteri/jamur dan hasil pembakaran senyawa-senyawa organik.
Selain petukaran karbon dari lingkungan atmosfer ke biosfer atau sebaliknya, karbon dipertukarkan dalam lingkungan bisofer melalui rantai makanan. Pertukaran karbon pun terjadi dari lingkungan biosfer ke geosfer. Cangkang hewan-hewan lunak pada umumnya mengandung karbonat. Karbonat kemudian diubah menjadi batu kapur melalui suatu proses yang disebut sedimentasi. Sedangkan perpindahan karbon dari lingkungan geosfer ke lingkungan atmosfer terjadi melalui hasil reaksi batu kapur dan erupsi gunung merapi.
Perpindahan karbon sebagai gas karbondioksida dari lingkungan atmosfer ke hidrosfer, atau sebaliknya terjadi untuk menyeimbangkan pH air laut, melalui reaksi kesetimbangan:
CO2 + H2O ? H2CO3H2CO3 ? H+ + HCO3
Sekitar 2 x 1016 karbon sebagai karbonat, batu bara dan minyak, sedangkan 2,5 x 1012 ton karbon sebagai karbondiokasida. Setiap tahunnya kemampuan tumbuhan untuk menyerap gas karbondioksida dari atomosfer hanya 15%. Dilain pihak, gas karbondioksida di atmosfer terus meningkat sejalan dengan perkembangan sarana transportasi dan industri. Perkembangan industri bukannya diiringi dengan penambahan kawasan yang dapat menyerap karbondioksida (misalnya tumbuhan), tetapi malah diiringi oleh penebangan hutan dimana-mana. Parahnya lagi, bukan hanya penebangan hutan tetapi pembakaran hutan yang menghasilkan gas karbondioksida. Hal inilah yang terjadi selama ini, akibatnya terjadi kenaikkan konsentrasi gas karbondioksida sebanyak 20% semenjak abad ke-19
Laut mempunyai peranan penting pada siklus karbon di bumi. Banyaknya jumlah karbon di laut adalah 50 kali lebih besar dari pada di atmosfer, dan perpindahan karbon dari atmosfer ke lautan melalui proses difusi. Laut mengandung sekitar 36.000 gigaton karbon, dimana sebagian besar dalam bentuk ion bikarbonat. Untuk sementara, 48% dari karbon yang dilepaskan ke atmosfer oleh pembakaran bahan bakar fosil dan penebangan hutan di serap oleh laut untuk digunakan dalam proses fotosintesis oleh diatom dan alga. Small (1972) dan Cole (1988) mengemukakan bahwa 88% hasil fotosintesis di bumi merupakan sumbangan dari alga dan fitoplankton di perairan.

I.2 Tujuan percobaan
Tujuan pada praktikum ini adalah untukMempelajari daur biogeokimia pada ekosistem khususnya daur karbon.
Membedakan daur karbon yang terdapat di atmosfer dan juga di akuatik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hubungan antara produsen dan konsumen dalam kaitannya dengan siklus karbon dan mutlak diperlukan dalam suatu ekosistem untuk menjaga kestabilannya. Di lingkungan terbuka, sangat sulit untuk menentukan faktor apa yang mempengaruhi hubungan tersebut karena terdapat banyak faktor yang mempengaruinya. Dalam siklus karbon, atom karbon terus mengalir dari produsen ke konsumen dalam bentuk molekul CO2 dan karbohidrat, sedangkan energy foton matahari digunakan sebagai pemasok energi yang utama. produsen memerlukan CO2 yang dihasilkan konsumen untuk melakukan fotosintesis. Dari kegiatan fotosintesis tersebut, produsen dapat menyediakan karbohidrat dan oksigen yang diperlukan oleh konsumen untuk melangsungkan kehidupannya (Anshory, 1984).
Siklus karbon sendiri memiliki arti yang luas. Dalam siklus karbon cadangan di atmosfer adalah sangat kecil jumlahnya jika dobandingklan dengan jumlah karbon yang ada didalam laut, minyak bumi dan cadangan-cadangan lain di dalam kerak bumi. Kehilangan karbon dalam aktifitas pertanian (misalnya karena penambahan karbon ke atmosfer lebih banyak dari pada yang disebabkan karena yang diikat oleh tanaman-tanaman tidak dapat menggantikan karbon yang dilepaskan dari tanah, terutama yang diakibatkan karena seringnya pengolahan tanah. Penebangan hutan dapat melepaskan karbon yang tersimpan dalam kayu, terutama apabila kayu tersebut segera terbakar, dan kemudian diikuti oleh oksidasi humus jika lahan tersebut digunakan untuk pengembangan daerah p[ertanian dan perkotaan (Hadioetomo, 1993).
Agar dapat lebih memahami tentang siklus karbon di dalam ekosistem, akan dimulai dari karbon dioksida (CO2) yang ada di udara atau larut di dalam air. CO2 dibentuk menjadi senyawa tertentu melalui proses fotosintesis. Senyawa ini bergabung dengan berbagai cara membentuk materi organism. Selama proses fotosintesis berjalan, energi dijalinkan ke dalam senyawa organic. Senyawa organik yang dihasilkan oleh produsen dapat diteruskan kepada konsumen. Waktu produsen atau konsumen menggunakan energi dari senyawa-senyawa organic, CO2 dapat dilepas kembali baik ke udara maupun ke dalam air, bergantung pada lingkungan hidup organism. Tetapi selama masih ada energi yang dapat dipergunakan, senyawa-senyawa organic akan tetap ada. Baik produsen maupun konsumen dapat membuang sisa materi yang mengandung karbon. Kalau organism mati tubuh mereka akan tinggal sebagai tumpukan suatu senyawa-senyawa karbon. Organisme saprovor (pembusuk) menyempurnakan proses pelepasan karbon (dalam bentuk CO2) dari sisa kotoran dan jasad-jasad yang mati. Sebagian besar dari saprovor yang menjadi konsumen terakhir, adalah mikroorganisme, kecuali jamur yang jelas dapat dilihat dengan mata bugil. Kadang-kadang proses pembusukkan yang dilakukan oleh sapravor berjalan sangat lambat, sehingga selama masa berjuta-juta tahun sejumlah besar senyawa karbon dapat menumpuk dalam bentuk gambut, batubara dan minyak bumi. Beberapa organism mengalihkan arus karbon melalui batu karang yang selanjutnya tertimbun sebagai batuan. Dengan demikian, lintasan arus utama siklus karbon adalah dari atmosfer atau hidrosfer ke dalam jasad hidup, kemudian kembali lagi ke atmosfer atau hidrosfer (Amir, 1981).
Ada beberapa persesuaian pendapat terhadap masalah CO2 dan kontribusi dari berbagai aktivitas manusia terhadap pengkayaan CO2 di atmosfer. Suatu pandangan yang ekstrim dari Woodwell dkk (1978), mengatakan bahwa pembinasaan atau pembakaran “pool biotik” (misalnya, pembakaran hutan) sama pentingnya dengan pembakaran minyak bumi. Broecke dkk (1977), menyimpulkan bahwa sumber CO2 terbesar berasal dari pembakaran minyak bumi, dibandingkan dengan sumber-sumber lainnya. Bolin (1977) setuju terhadap semua pendapat diatas, bahkan hutan-hutan merupakan cadangan karbon dalam biomasa hutan sebanyak 1,5 kali lipat dan didalam humus tanah hutan sebanyak 4 kali lipat dari banyaknya karbon diatmosfer (Kamajaya.1996).
Oksidasi humas yang cepat dan pelepasan gas CO2 yang pada lazimnya ditahan dalam tanah yang mempunyai efek tajam dari pada apa yang baru diketahui sekarang termasuk pengaruhnya terhadap peredaran nutrient lainya. Sebagai contoh, Nelson (1967) menggunakan kerang untuk menunjukkan bahwa penggundulan hutan dan aktivitas pertanian telah mengakibatkan penurunan jumlah “trace element” tertentu dalam aliran permukaan tanah. Dia menemukan bahwa kerang yang berumur 1000 tahun hingga 2000 tahun mengandung sekitar 50 – 100% lebih banyak mangan (mg) dan barium (Ba) dibandingkan dengan kerang sekarang. Dalam proses pembersihan (eliminasi) Nelson berkesimpulan bahwa pengurangan aliran air asam yang mengandung CO2 yang merembes ke dalam tanah dapat mengurangi kecepatan pelarutan unsure-unsur tersebut dari batuan yang dialirinya. Dengan kata lain, air sekarang cenderung lebih cepat mengalir di permukaan tanah dari pada merembes kebawah melalui lapisan humas dalam tanah (Sowasono, 1987).
Karbon yang terdapat di laut cenderung mengatur karbondiokida di atmosfer. Karbon yang terdapat di dalam suatu perairan merupakan hasil dari proses sebagai berikut:- Difusi C02 dari udara- Air hujan- Respirasi organisme akuatik- Dekomposisi bahan organik- Gunung merapi bawah laut- Pelapukan batuan- Pelarutan batuan karbonat- Injeksi CO2 ke dalam air Karbondiokida dari atmosfer mengalami reaksi yang cepat ketika larut dalam air. CO2 yang larut dalam air bereaksi membentuk suatu kesetimbangan jenis ionik dan non-ionik yaitu:1. karbondioksida yang terlarut bebas2. asam karbonat (H2CO3)3. bikarbonat (HCO3-)4. karbonat (CO32-).

Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. CO2 bebas di perairan memiliki konsentrsi sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan konsentrasi di udara. Hal ini disebabkan karena pH air laut umumnya agak alkalis yang berarti mengandung kation-kation seperti Mg dan Ca dalam jumlah berlebihan. Kondisi seperti ini sangat memungkinkan terjadi reaksi kesetimbangan antara CO2 dan H2O membentuk ion karbonat dan bikarbonat. Karbon anorganik umumnya dalam bentuk karbondioksida dan bikarbonat merupakan sumber utama karbon untuk fotosintesis dan produksi bahan organik. Bikarbonat sebenarnya dapat berperan sebagai sumber karbon. Namun, di dalam kloroplas bikarbonat harus dikonversi terlebih dahulu menjadi karbondioksida dengan bantuan enzim karbonik anhidrase.Karbon terlarut dapat ditransportasi oleh arus laut. Di daerah kutub karbon terlarut akan tenggelam karena air dingin dipermukaan memiliki densitas yang tinggi sehingga karbon tersebar didasar. Sedangkan di daerarh tropis karbon terlarut mengalami penguapan menjadi karbondioksida dan kembali ke atmosfer akibat suhu perairan yang hangat. Karbon di perairan dalam bentuk karbondioksida, selain diperlukan oleh produsen untuk fotosintesis (menghasilkan 02 dan karbohidrat), ia juga berperan dalam beberapa hal di laut yaitu:1. Pembentukan cangkang dari berbagai jenis hewan laut2. Pengatur pH di laut3. Membantu dalam pembentukan batu karang Pengasaman Laut adalah istilah yang diberikan untuk proses turunnya kadar pH air laut yang kini tengah terjadi akibat meningkatnya karbon dioksida di atmosfer yang dihasilkan dari kegiatan manusia (seperti penggunaan bahan bakar fosil). Terlarutnya CO2 juga akan menyebabkan naiknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di lautan , sehingga akan mengurangi pH lautan (semakin rendah nilai pH, semakin asam sebuah larutan). Menurut Jacobson (2005), pH di permukaan laut diperkirakan turun dari 8,25 menjadi 8,14 dari tahun 1751 hingga 2004. Sejak dimulainya revolusi industri, pH lautan telah turun sebesar lebih kurang 0,1 satuan, dan diperkirakan akan terus turun hingga 0,3 - 0,4 satuan pada tahun 2100 akibat makin banyaknya gas CO2 karena aktivitas manusia. Di dalam perairan, CO2 jarang mengakibatkan pH perairan lebih rendah dari 5,5. Perairan yang lebih asam dari pH 5,5 diduga bukan karena kandungan CO2 yang tinggi tetapi karena mengandung mineral-mineral asam kuat. Injeksi karbondioksida dilakukan dengan cara menginjeksikan gas tersebut ke dalam sedimen di laut dengan ketebalan ratusan meter. Kombinasi dari temperatur yang rendah dan tekanan yang tinggi pada kedalaman laut 3000 meter akan membuat karbon dioksida berubah menjadi cairan yang lebih berat dari air laut di sekitarnya, yang memungkinkannya untuk tidak terlepas dari tempat penyimpanannya. Hal ini dkemukakan oleh pakar dari Universitas Harvard. Injeksi langsung karbon dioksida ke dalam laut telah disarankan sebagai salah satu metode untuk mengontrol bertambahnya jumlah karbon dioksida di atmosfer bumi dan meminimalkan dampak dari pemanasan global. Meskipun penyerapan CO2 oleh lautan akan membantu memperbaiki efek iklim akibat emisi CO2, namun diyakini juga bahwa akan ada konsekuensi negatif terhadap organisme kerang-kerangan yang memanfaatkan kalsit dan aragonit dari kalsium karbonat untuk membentuk cangkang. Kalsit dan aragonit stabil di permukaan air karena ion karbonat berada pada kondisi sangat jenuh. Dengan turunnya pH air laut, konsentrasi ion karbonat ini juga akan turun, dan pada saat karbonat berada pada kondisi tak jenuh, struktur yang dibentuk dari kalsium karbonat menjadi rapuh dan akan mudah terpecah/terputus (dissolute). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karang-karangan (Gattuso et al., 1998), alga coccolithophore (Riebesell et al., 2000) dan pteropods (Orr et al., 2005) akan mengalami peningkatan pemutusan (maksudnya dissolution) ketika terpapar oleh naiknya kadar CO2. Fakta lain lebih jelas mengindikasikan bahwa penambahan karbondioksida dalam atmosfer dan pemanasan global mengurangi kondisi pertumbuhan fitoplankton. Hal ini berpotensi memusnahkan biota laut yang paling dasar dan memperburuk pemanasan global.
Konsentasi DIC permukaan laut “saat ini” (1990-an) (dari the GLODAP climatology)
Laut mengandung sekitar 36.000 gigaton karbon, dimana sebagian besar dalam bentuk ion bikarbonat. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan karbon-karbon atau karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksinya di dalam air. Pertukaran karbon ini menjadi penting dalam mengontrol pH di laut dan juga dapat berubah sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon. Karbon siap untuk saling dipertukarkan antara atmosfer dan lautan. Pada daerah upwelling, karbon dilepaskan ke atmosfer. Sebaliknya, pada daerah downwelling karbon (CO2) berpindah dari atmosfer ke lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk:
CO2 + H2O ⇌ H2CO3
Reaksi ini memiliki sifat dua arah, mencapai sebuah kesetimbangan kimia. Reaksi lainnya yang penting dalam mengontrol nilai pH lautan adalah pelepasan ion hidrogen dan bikarbonat. Reaksi ini mengontrol perubahan yang besar pada pH:
H2CO3 ⇌ H+ + HCO3-
























BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu 7 April 2010 di Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

III.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah botol selai, siput kecil, Hydrilla verticillata, ruang gelap, larutan bromtimol biru, plastik es, karet gelang dan air.

III.3 Cara kerja
Pertama – tama, disiapkan terlebih dahulu percobaan A dan B masing – masing terdiri dari empat botol. Tandai botol – botol tersebut dengan A1,A2,A3,A4 serta B1,B2,B3,B4. Setelah itu di isi tabung dengan air hingga 2 cm di bawah mulut botol. Tambahkan 5 tetes brom timol blue pada masing – masing botol. Di masukkan ke dalam botol A1 dan B1 masing- masing satu hewan Lymnea sp. Lalu ke dalam botol A2 dan B2 masing – masing hewan Lymnea dan tumbuhan Hydrilla. ke dalam botol A3 dan B3 masing – masing tumbuhan Hydrilla sp. Dan botol A4 dan B4 sebagai control tidak di masukkan Lymnea maupun Hydrilla. Setelah semuanya di masukkan, tutup semua botol rapat –rapat. Di tempatkan rangkaian percobaan A ditempat terang dan rangkaian percobaan B di tempat gelap. Setelah 24 jam amati semua tabung, bandingkan dengan control. Lalu lakukan perhitungan kadar oksigen terlarut dengan menggunakan DO meter.








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil

DO awal 12,5%

Tempat terang
Perlakuan terhadap botol Perubahan warna Keteranagan
A1 Kuning muda (+++)
A2 Bening (++)
A3 Biru muda (+)
A4 Kuning (++++)

Perlakuan terhadap botol DO akhir
A! 12,2%
A2 11,7%
A3 12,4%
A4 12,3%

Tempat gelap
Perlakuan terhadap botol Perubahan warna Keteranagan
B1 Kuning muda (+++)
B2 Bening (+)
B3 Kuning bening (++)
B4 Bening (+)

Perlakuan terhadap botol DO akhir
B1 11,4%
B2 10,8%
B3 12,2%
B4 12,4%

Keterangan : A1, B1 = Air kolam + siput + bromtimol biru
A2, B2 = Air kolam + siput + hydrilla + bromtimol biru
A3, B3 = Air kolam + hydrilla + bromtimol biru
A4, B4 = Air kolam + bromtimol biru

IV.2 Pembahasan
Pada percobaan yang telah dilakukan untuk dapat memahami peran produsen dan konsumen pada siklus karbon digunakan dua perlakuan yang berbeda-beda, ada yang ditempat terang, dan ada yang ditempat gelap. Masing-masing perlakuan tersebut menggunakan 4 tabung yang isinya berbeda-beda. Botol pertama diisi dengan air kran ditambah siput ditambah larutan bromtimol biru, pada botol kedua diisi dengan air kran ditambah siput ditambah Hydrilla ditambah bromtimol biru, pada botol ketiga diisi dengan air kran ditambah hydrilla ditambah dengan bromtimol biru, dan pada botol ke empat diisi dengan air kran ditambah dengan bromtimol biru.
Pada percobaan ini bromtimol biru berfungsi sebagai indikator untuk dapat mengetahui apakah terdapat CO2 didalam tabung reaksi karena larutan bromtimol biru sangat sensitif dengan CO2, kesensitifan ini dapat dilihat dengan adanya reaksi perubahan warna. Setelah menempatkan masing-masing golongan botol ketempat yang telah dilakukan dengan perlakuan yang berbeda, tabung-tabung tersebut didiamkan selama 24 jam agar dapat melihat reaksi yang terjadi.
Setelah 24 jam diperoleh hasil pengamatan, pada saat didalam tempat terang di peroleh hasil pada botol pertama yang diisi dengan air kran + siput + bromtimol biru warna indikator kuning mudai, siput hidup tetapi kurang aktif, terjadi perubahan warna yang kuat, hal ini membuktikan bahwa CO2 lebih banyak. Siput terlihat kurang aktif karena proses fotosintesis yang terjadi sangat minim, hal ini disebabkan karena botol diletakkan didalam tempat terang. Pada botol kedua dengan isi air kran + siput + hydrilla + bromtimol biru warna indikator kuning bening, siput hidup tetapi kurang aktif, hydrilla berwarna hijau segar, hal ini menunjukkan bahwa respirasi lebih kuat. Pada botol ke tiga dengan isi air kran + hydrilla + bromtimol biru warna indikator biru bening hydrilla hijau segar, hal ini menunjukkan O2 berebut karena jumlah cahaya yang terbatas. Pada botol keempat diisi dengan air kran + bromtimol biru, botol keempat ini hanya digunakan sebagai kontrol.
Pada perlakuan diruang gelap, pada botol pertama yang diisi dengan air kran + siput + bromtimol biru warna indikator kuning muda, siput hidup tapi kurang aktif, hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi proses fotosintesis sehingga siput tidak dapat mengambil O2 yang terjadi hanya lah proses respirasi yang dihasilkan oleh siput tersebut, Pada botol kedua dengan isi air kran + siput + hydrilla + bromtimol biru warna indikator kuning bening, siput mati, hydrilla layu, hal ini menunjukkan hydrilla berubut O2 dengan siput, hydrilla juga tidak dapat berfotosintesis dengan tidak adanya cahaya. Pada botol ke tiga dengan isi air kran + hydrilla + bromtimol biru warna indikator kuning bening, hydrilla layu, hal ini menunjukkan bahwa respirasi terjadi sedikit tetapi fotosintesis tidak terjadi. Pada botol keempat diisi dengan air kran + bromtimol biru, tabung keempat ini hanya digunakan sebagai kontrol.

Dari hasil yang telah kita peroleh dapat dilihat bahwa organisme-organisme yang mati/ kurang aktif terlebih dahulu terdapat pada tabung yang diberi perlakuan ditempat gelap, hal ini karena tidak terjadi fotosintesis ditempat gelap karena tidak tersedianya cahaya pada tempat gelap. Organisme-organisme tersebut membutuhkan zat O2, CO2, dan karbohidrat. Peristiwa yang ditunjukkan dengan perubahan warna pada bromtimol biru adalah peristiwa respirasi, karena peristiwa respirasi menghasilkan CO2 yang sangat sensitif terhadap bromtimol biru, kesensitifan ini dapat dilihat dengan adanya perubahan warna pada bromtimol biru. Apabila terjadi respirasi yang cukup banyak, botol tersebut tampak berembun. Pada tabung A4 dan B4 bromtimol biru tidak mengalami perubahan warna, karena botol-botol tersebut hanya berisi dengan air kran dan bromtimol biru, tidak terdapat organism didalamnya, botol-botol ini hanya berfungsi sebagai kontrol. Dari rancangan paercobaan dapat dilihat bahwa fungsi tabung A4 dan tabung B4 hanya berfungsi sebagai control atau sebagai pembanding untuk dapat mengetahui apakah percobaan yang telah dilakuakan berhasil atau tidak. Hasil yang diperoleh adalah semua organisme yang ditempatkan ditempat gelap akan mati semua karena tidak tersedianya cahaya untuk produsen melakuakan proses fotosintesis, tanpa adanya O2 yang dihasilkan pada proses fotosintesis, konsumen tidak dapat hidup dan melakuakn proses respirasi. Disini siklus karbon berperan atau berjalan jika berubah menjadi kuning yang sebelumnya indikatornya berwarna biru.

Sementara pada nilai OD awal dan akhir tiap tabel berbeda-beda, nilai OD pada tempat terang pada botol yang berisi hydrilla memiliki nilai OD yang tinggi. hal ini menunjukkan bahwa terjadi respirasi lebih kuat. sedangkan pada nilai OD pada lymnea seharusnya lebih kecil karena siput membutuhkan oksigen maka dari itu seharusnya nilai ODnya kecil dibanding botol yang berisi lymnea dan hydrillia.

sedangkan pada nilai OD pada tempat gelap seharusnya nilai OD pada tempat yang diisi oleh lymnea kecil hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi proses fotosintesis sehingga siput tidak dapat mengambil O2 yang terjadi hanya lah proses respirasi yang dihasilkan oleh siput tersebut, sama halnya dengan botol yang diisi oleh lymnea dan hidrilla seharusnya memiliki nilai OD yang kecil, hal ini menunjukkan bahwa respirasi terjadi sedikit tetapi fotosintesis tidak terjadi













BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum ini adalah :
Produsen berperan sebagai penyedia oksigen dan karbohidrat bagi konsumen, Konsumen berperan sebagai penyedia CO2 untuk produsen untuk digunakan produsen dalam melakukan proses fotosintetis, Hubungan produsen dan konsumen saling bergantung satu sama lain, jika salah satu tidak dapat melakukan proses dengan baik maka proses lainnya tidak akan bisa berjalan, Dalam melakukan proses fotosintesis mutlak diperlukan bantuan cahaya matahari, Sinar matahari, CO2, O2, dan karbohidrat sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan antara hubungan produsen dan konsumen, Dalam percobaan ini dapat dilihat adanya siklus karbon, yang dapat dilihat pada tabung reaksi kedua. Karena pada tabung ini terjadi interaksi timbal balik antara Hydrilla dan siput,Kondisi ruangan dapat mempengaruhi keasamaan suatu lingkungan, ini dapat dilihat pada perbedaan warna, dan bentuk produsen, pada kamar terang dan kamar gelap. Pada kamar gelap, kondisi asamnya lebih pekat, daripada di kamar terang.














DAFTAR PUSTAKA

Lim, D. 1998. Microbiology Second Edition. McGraw Hill Companies : New York

Amir, A. 1981. Biologi umum. Gramedia. Jakarta.

Anshory, I. 1984. Biologi umum. Genesa Exact. Bandung

Hadioetomo, ratna Sari. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT. Gramedia: Jakarta.

Kamajaya.1996. Sains Biologi. Ganeca Exact. Bandung

Sowasono, Haddy. 1987. Biologi Pertanian. Rajawali Press, Jakarta

0 komentar: